Jumat, 28 November 2008

Tuhan Berkorban atau Manusia Berkorban! Mana Yang Lebih Baik?






UNTUK KALANGAN SENDIRI

Idhul Adha tiap tahun selalu diperingati oleh umat Islam. Hari raya yang dilaksanakan setiap 10 Dzulhijah ini merupakan hari dimana Muslim yang ‘dipanggil’ oleh Allah SWT menghadap-Nya untuk menunaikan ibadah haji sedangkan yang lain mengadakan penyembelihan binatang kurban setelah sholat ied.

Ritual penyembelihan hewan kurban yang merupakan ibadah yang Allah SWT ajarkan kepada Ibrahim yang merupakan Bapak Para Nabi itu dilanjutkan oleh Rasul kita Muhamad SAW. Pada aktivitas ini begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil diantaranya, kepedulian terhadap sesama. Dimana daging kurban tersebut selain dibagikan kepada orang yang berkurban juga diberikan kepada orang yang kurang mampu.

Dibalik begitu banyaknya manfaat yang dapat kita ambil pada hari raya itu, banyak juga hujatan yang dilayangkan kepada salah satu ritual ibadah dalam Islam itu. Diantaranya dapat kita lihat hujatan itu pada situs sesat www.aboutisa.com.

Dimana disana tertera bahwa Tuhan Kristen Maha Penyayang ketimbang Allah, Tuhannya Umat Islam. Mereka beralasan bahwa Tuhan mereka Maha Penyayang karena Ia (Tuhan) rela mengorbankan anak-Nya (Yesus) untuk menebus semua dosa manusia. Sedangkan Allah SWT memerintahkan manusia (Nabi Ibrahim) untuk mengorbankan anaknya (Nabi Ismail).

Kalau sekali lihat mungkin pernyataan itu dapat kita terima, tapi setelah kita pikir sekali lagi ternyata pernyataanya tertolak secara logika. Mengapa? Sebelum terlalu jauh kita kita pasti sepakat bahwa yang namanya Tuhan itu Maha segala Maha (setuju dong!!!! ). Ia (Tuhan) bisa menciptakan apa saja yang Ia mau, Ia bisa menghancurkan dan menggantikan dengan mahluk lain. Ia tidak pernah berkurang ke-Mahaan-Nya meskipun ciptaan-Nya tidak menyembahnya. Begitu juga dengan alasan bahwa katanya Tuhan Kristen lebih Maha ketimbang Tuhannya Umat Muhamad koq Tuhan mau sih mengirim anak-Nya untuk dikorbankan padahal Ia bisa menghacurkan ciptaan-Nya dan menggantikan-Nya dengan yang lain. Bukankan meskipun manusia tetap tidak mau menyembah-Nya Tuhan tidak akan rugi, karena Ia Maha segala Maha. Disana terlihat ketiadaberdayaan Tuhan yang katanya Maha segala Maha.

Oke mungkin kita bisa menerima pernyataan diatas tapi kan Tuhannya Umat Islam itu haus akan darah. Dimana Ia memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan anaknya Ismail. Jawabannya itu salah karena Allah SWT hanya menguji Ibrahim, apakah ia lebih mencintai anaknya atau Allah, Tuhannya. Itu dapat kita lihat bahwa pada saat penyembelihan Ismail, Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing. Kalau belum jelas coba buka Qs 37: 106-107, yang bunyinya “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Jadi yang jelas Allah SWT bukanlah haus darah tetapi hanya menguji hamba-Nya. Bukankan Ia menciptakan manusia supaya manusia menyembah dan beribadah kepada-Nya. Penyataan bahwa Tuhan Nasrani rela mengorbankan anak-Nya, ternyata orang (Yesus) yang dikorbankan tidak bersedia dikorbankan, pernytaanya dapat kita lihat pada Injil Matius 27:46 yang bunyinya : “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli lama sabakhtani?” artinya: Allahku, Allahku, mengapa Kau tinggalkanku?”. Terlihat jelas bahwa anak Tuhan pun tidak bersedia menjadi kurban untuk manusia. Bukankah yang namanya anak pasti disayang, dan anak yang baik adalah yang berbakti pada orangtua.

Sedangkan kisah Ibrahim dan Ismail sangat bertolak belakang dengan kisah Yesus. Coba deh buka Qs 37: 102-103, yang bunyinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha sama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; isnya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar. Tatkala keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”

Ternyata logika dan kitab suci menolak pernyataan bahwa Tuhan Kristen lebih penyayang ketimbang Allah SWT. Mana yang lebih baik? Tuhan berkorban atau manusia yang berkorban!. Mana yang masuk logika. Wallahuallam bishowab.

Tidak ada komentar: