Selasa, 23 Februari 2010

ORANG BIASA BERKOMENTAR TENTANG “KENAPA GURU HARUS KREATIF?”




Ketika ke perputakaan sekolah aku tidak sengaja menemukan (harta karun kali ) sebuah buku yang tampilan dan judulnya menarik hati. Kenapa Guru Harus Kreatif? tercetak dengan jelas dengan warna hitam. Di atasnya ada komentar dari Kak Seto tentang buku ini.
“Mengajarkan kepada untuk lebih profesional menyentuh para siswa dengan menggunakan kekuatan cinta dan kreativitas!” ini adalah pendapat Kak Seto
Sedangkan di bawah judul ini ada tujuh orang anak ditemani seorang laki-laki yang berkumis dan beralis tebal yang identik dengan seorang yang menyeramkan menyarungkan dua boneka di kedua tangannya, tangan kanannya boneka kucing sedangkan tangan kiri boneka buaya. Meskipun dengan kumis dan alis tebal yang identik dengan seorang yang “menyeramkan” tetapi pada gambar ketujuh anak itu tertarik dengan laki-laki tersebut, bahkan anak yang pendiam dan “nakal”pun memperhatikannya. Dibelakang mereka terdapat sebuah papan tulis yang ada gambar kecerdasan majemuk dan sebuah pelangi dan matahari tersenyum yang identik dengan sesuatu harapan yang cerah. Dari gambar sampul buku ini dapat kita simpulkan bahwa dengan membaca buku ini maka kita “yang seram”pun bisa menyenangkan bahkan bagi anak yang pendiam maupun “nakal” baik meliputi semua kecerdasan majemuk sehingga masa depan anak akan cerah-secerah mentari yana tersenyum dan indahnya pelangi.

Akupun penasaran, apakah buku ini benar-benar bisa menyajikan “ramuan” yang sesuai dengan penafsiranku tentang gambar sampul buku ini? Maka akupun membukaa buku ini, ketika aku buka tanpa sengaja aku melihat dibelakang sampul depan ada tulisan ciri-ciri guru kreatif. Disana tertulis ciri-ciri guru kreatif adalah FORCHILDREN, yang merupakan singkatan dari Fleksibel, Optimis, Respek, Cekatan, Humoris, Inspiratif, Lembut, Disimplin,Responsive, Empatik Dan Ngefriend.

“Belum apa-apa sudah mendapat ramuan dari isi buku ini.” Pikirku. Disamping halaman ini ada beberapa pendapat ahli.
“Memberikan bahasan yang terperinci dalam mendidik anak dnegan contoh-contoh aktivitas, yang akan menginspirasi untuk menjadi guru yang kreatif. Dianjurkan untuk dibaca oleh siapa saja yang berkaitan dengan anak-anak, para guru maupun para orang tua. (Herlina Mustikasari Mohammad yang merupakan Pendidik, Linguis, dan pemilik Easy Reader). Sedangkan dibawahnya terdapat pendapat Pidi Baiq yang merupakan imam besar The Panandalam Serikat serta penulis Bestseller Drunken Monster dan Drunken Molen ( Seharusnya buku ini saya yang nulis, tapi Mas Andi lebih dipercaya oleh guru).

“Kenapa Guru Harus Kreatif? ini akan membimbing guru dan siapa pun yang berinteraksi dengan anak-anak tentang sikap-sikap yang harus diterapkan dalam mendidik. Guru demikian akan mampu mengoptimalkan kecerdasan setiap anak yang berbeda satu sama lain. Buku ini sangat tepat digunakan untuk menyongsong ekonomi kompetitif ini merupakan pendapatnya Ratna Megawangi yang merupakan pendiri Indonesian Heritage Foundation dan Sekolah Karakter.

Buku ini dari awal sampai akhir jika dilihat secara pintas selalu terlihat gambar pada setiap halaman, kesan kreatif dan cair sangat melekat dengan dunia anak-anak, buku ini dibagi atas delapan bab. Bab pertama berjudul “Kenapa Jadi Guru?” yang berisi bahwa jadi guru adalah tugas mulia, mau apapun kerjaan kita pada dasarnya kita adalah guru yang harus suka dengan anak karena anak adalah amanah.
Bab kedua berjudul “Dasar Mendidik Anak” yang menyatakan pendidikan itu harus bertahap diawali dari yang ringan dan mudah, dilakukan berulang-ulang dan harus menyenangkan.

“Mengoptimalkan Kecerdasan Majemuk” yang meliputi kecerdasan linguistik/bahasa, kecerdasan logika matematika, kecerdasan gerak, kecerdasan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalis, dan yang terakhir kecerdasan transendental yang merupakan jadi pembahasan pada bab ketiga.

Pada bab keempat kita diberitahu bahwa kita harus pahami dunia anak, bahwa yang harus diingat bahwa anak bukan orang dewasa mini yang selalu berkembang, senang meniru, dan kreatif. Kita juga disadarkan bahwa dunia anak adalah dunia bermain, karena fungsi dan manfaat bermain sangat banyak bagi anak. Oleh karena itu kita juga harus tahu mana jenis-jenis permainan yang baik dan cocok bagi anak. Selain mengajak mereka bermain yang sesuai dengan mereka kita juga harus menjadi teladan bagi anak karena pada usia seperti mereka ada massa meng-copy paste apa yang dilihat, didengar, diraba dan dirasa. Maka janganlah mencela/memarahi, adil dan tidak pilih kasih, serta penuhi hak-hak mereka. Akan lebih lengkap dengan memanjatkan doa pada Sang Maha Pengabul untuk mereka.

Bergaul bersama anak itu yang menjadi pokok pembahasan pada bab kelima. Bergaul dengan anak banyak caranya yaitu dengan melibatkan anak, melatih kemampuan otaknya, mengajak mereka berkreasi, gunakan benda sekitar sebagai alat Bantu. Selain itu juga bisa kita gunakan cara membuat kegiatan yang berhubungan dengan apresiasi musik dan olah tubuh dengan membuat lingkaran. Membuat hasta karya, bermain di halaman, memasak dan bermain peran juga bisa menjadi sarana yang tepat untuk bergaul bersama anak. Karena dengan menjadi sahabat mereka maka apa yang diajarkan maka akan lebih mudah diterima.

Guru juga dituntut untuk mengembangkan pemikiran anak. Banyak cara yang bisa digunakan, diantaranya adalah dengan menceritakan kisah atau dongeng, berbicara langsung dan sesuai dengan kemampuan amak. Gunakan juga cara diskusi, gunakan pengalaman dan lagu sebagai sarana pembelajaran. Semua sarana diatas adalah topil pada bab keenam yang berfungsi untuk melatih kepekaan anak.

Membangun jiwa anak juga menjadi poin penting pada bab ketujuh. Begitu banyak cara yang disarankan penulis diantaranta adalah menemani anak dengan berbahasa dan bersikap lembut, gembirakan hati mereka, bangun kompetisi kuat dianatar mereka dengan memberikan reward and punishment yang tepat, tidak lupa juga dengan memberikan motivasi dan pujian terhadap mereka. Beri sedikit canda dan gurauan juga penting. Dan akan lebih “manis” jika memanggil mereka dengan panggilan yang baik. Itu semua berfungsi untuk mengarahkan dan mengingatkan mereka.

Buku ini ditutup oleh Andi Yudha dengan bab yang membahas bahwa pentingnya menanamkan nilai ruhani beserta caranya. Penulis pada buku ini menuliskan tiga cara menanamkan nilai ruhanu yaitu mengenalkan arkanul iman, mengenalkan kesempuranaan Islam, serta menekankan pada pengalaman dengan memberikan contoh yang tepat.

Buku ini dari penampakan sudah “cair” ternyata isinya pun cair dengan kosakata yang mudah “dihisap” (karena dari awal sudah menggunakan sifat air jadi tidak cocok kalau gunkan kata mudah dicerna). Buku-buku seperti ini sangat berguna untuk “panduan” atau paling tidak perbandingan dalam kegiatan belajar-mengajar. Tapi akan lebih berguna jika diterapkan pada kehidupan karena belajar-mengajar tidak hanya tugas guru dan disekolah saja.

Terima kasih untuk Bunda Nila yang sudah izini untuk meminjam buku ini.